UJI MATERIIL UUD 1965 PENODAAN AGAMA di MK


menarik disimak pendapat KH Hasyim Muzadi di hadapan Mahkamah Konstitusi:

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 140/PUU-VII/ 2009
PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1965 TENTANG PENYALAHGUNAAN DAN/ATAU PENODAAN AGAMA TERHADAP
UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

10 Februari 2010

AHLI DARI PEMERINTAH : KH. HASYIM MUZADI
Assalamualaikum wr. wb.
Selamat sejahtera untuk kita semua dan selamat pagi.

Majelis Hakim yang saya muliakan, menurut pemahaman saya, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 tidak menyangkut kebebasan agama tapi menyangkut penodaan agama, sehingga tidak relevan kalau dikaitkan dengan kebebasan masing-masing kita beragama. Yang kedua, di dalam penjelasan dari undang-undang itu, juga ada pada penjelasan Pasal 1 bahwa tidak menghalangi juga agama-agama yang mungkin akan ada. Saya baca ini tidak berarti bahwa agama-agama lain misalnya Yahudi, Zoroasterian, Shinto, Taoisme dilarang di Indonesia. Jadi sudah jelas, bukan Undang-Undang Kebebasan Agama. Yang kedua, saya berpendapat bahwa undang-undang ini masih diperlukan di Indonesia, karena kalau dicabut akan ada tiga akibat yang ditimbulkan.

1. Bisa atau dapat menimbulkan instabilitas Indonesia.

2. Dapat mengganggu kerukunan umat beragama yang sampai hari ini sudah kita upayakan begitu rupa sehingga sangat baik. Bahkan kantor PBNU sendiri sekaligus kantor agama-agama di seluruh Indonesia ini. Ini bisa terganggu.

3. Saya justru kasihan bahwa kalau ini dicabut yang paling rugi adalah minoritas. Kalau mayoritas dia cukup mempunyai kemampuan untuk bereakasi, tetapi kalau reaksi itu timbul karena penodaan, kemudian tidak ada patokan hukumnya maka yang terjadi tentu anarki.

Jadi kita jangan mengambil logika terbalik, seakan-akan tidak ada aturan menjadi beres.Tapi tidak ada aturan itu masyarakat akan bikin aturannya sendiri. Saya ingin menyampaikan beberapa sisi dari undangundang ini. Menarik undang-undang ini tahun 1965 karena saya termasuk orang tua yang menangi, apa menangi bahasa Indonesianya? Ya menangi lah, mengalami pada tahun itu. Tahun itu memang tahuntahun penghujatan agama luar biasa baik dari segi media, budaya, politik, dan juga kekuasaan. Juga ada manpower sehingga orang-orang yang ada di Blitar, yang di Kediri yang melakukan ibadah dalam Islam ketika itu diserbu secara membabibuta oleh kelompok-kelompok ateisme.

Hari ini kita melihat ada orang mengaku Nabi, ada orang mengaku malaikat Jibril, setelah ditahan menangis. Lha ini saya juga heran bagaimana malaikat bisa menangis? [hadirin tertawa]. Kalau dia diusut apakah Mikail juga menjadi saksi? Ini semuanya dengan adanya orang-orang beribadah secara tidak baik merebak di Indonesia. Maka diperlukan kewaspadaan kita untuk ini.

Modal utama tentu bukan hukum, modal utama adalah saling menghormati antar agama itu. Mempunyai nilai lebih luhur daripada sekedar legal formal yang kadang-kadang masih prosedural dan belum substansial. Selanjutnya yang kedua, penghujatan, penistaan, dan pembelokan agama tertentu menurut pandangan saya bukan bagian dari demokrasi tetapi merupakan agresi moral terhadap keluhuran agama itu masing-masing yang diserang karena tidak pernah ada demokrasi yang tidak dibatasi oleh demokrasi yang lain dan orang menghormati agama adalah hak demokrasinya dia dan memeluk pun hak demokrasinya dia, jangan dibalik penyerangan menjadi hak demokrasi daripada moral itu sendiri.

Yang ketiga, secara konstitusi bahwa konstitusi tidak menganut rinci itu menurut saya sudah lazim. Konstitusi cuma mengatakan kebebasan agama, tapi agama itu apa? Dan berapa? Lalu bagaimana? Tentu hak undang-undang, tidak bisa dikonfrontir undang-undang ini dengan pokok konstitusinya. Yang seharusnya undang-undang bertindak sebagai memorie van toelichting terhadap konstitusi dan undang-undang itu.

Kemudian, kalau undang-undang ini dicabut sesungguhnya tidak akan bisa menyurutkan reaksi dari kelompok agama yang merasa disinggung. Nah, kalau tidak menyurutkan, kemudian tidak ada patokan yang ada, maka yang terjadi justru kesulitan kita bersama-sama untuk mengayom di bawah agama-agama dan lintas agama.

Yang selanjutnya, saya ingin menyampaikan fakta. Karena saya selama ini masih menjadi salah satu Presiden World Conference on Religion for Peace. Saya mengetahui betul bahwa sebuah eksistensi atau koeksistensi, multi-eksistensi atau pro-eksistensi lintas agama inilah yang benar. Bahwa masing-masing agama berusaha menghormati agama lain tanpa dia harus melepaskan keyakinan yang sesungguhnya dari agama yang diwakilinya. Sehingga di sini peristiwa yang menyangkut Saudara saya tercinta Arswendo saya pikir karena hanya apes saja. [hadirin tertawa] Kenapa? Pertama, karena mungkin respondennya siapa. Coba respondennya di Al-Hikam atau di pesantren, itu nomor satu semua Nabi Muhammad. Yang kedua, mungkin tidak tahu bahwa itu menyinggung. Seperti juga di Thailand misalnya banyak orang tidak tahu bahwa masuk masjid dengan sepatu, itu perkara besar. Padahal di Kristen itu biasa. Oleh karenanya maka di gereja tidak pernah ada orang kehilangan sepatu karena sepatunya dipakai[hadirin tertawa], yang kehilangan sandal adalah di masjid, tapi di gereja yang hilang sepeda motornya [hadirin tertawa].

Nah, ketidaktahuan ini, ini perlu ada jalan keluar. Saya harus tahu sebagai orang Islam atau tokoh Islam, hal-hal apa saja yang sangat peka di dalam agama Katolik. Saya harus tahu hal-hal apa yang peka di dalam agama Budha. Untuk apa? Untuk supaya saya tidak masuk menyinggung yang lain. Ketika saya di Vatikan, saya diledek oleh seorang Monsieur, namanya Monsieur Michael Fitcher, “Pak Hasyim katanya Kyai di Indonesia itu isterinya banyak”, nah ini nyiindir ini saya bilang. Lalu saya jawab dengan sindiran pula, “Mungkin karena menampung isterinya pastur yang tidak jadi” [hadirin tertawa]. Artinya bagaimana mengemukakan sebuah koreksi tanpa penodaan itu adalah seni untuk lintas agama ini.

Jadi yang kita perlukan sekarang adalah kehati-hatian yang pertama, yang kedua yang kita perlukan adalah mengenal orang lain pada hal yang sangat peka. Saya kira ini lebih luhur dari pada sekedar legal formalnya. Saya ingin masuk di dalam faktnya. Saya sudah dikenal di kalangan lintas agama sebagai pemadam kebakaran kalau ada peristiwa-peristiwa konflik. Suatu ketika ada peristiwa di Batu, dimana Quran diinjak-injak, lalu berdatanganlah anak-anak dari Pasuruan akan menyerbu ke Batu, Jawa Timur. Maka saya cegat di tengah, setelah ketemu saya bilang, “Jangan lakukan sendiri-sendiri karena semuanya ada aturannya”. Maka berhenti di situ. Seandainya tidak ada aturan, maka saya tidak bisa lagi mengemukakan argumentasi untuk menghentikan daripada pertikaian itu.

Demikian juga yang di Marriot, ini bukan hanya menyangkut masalah nasional tapi juga masalah internasional. Apa yang dikemukakan bahwa agama Islam menghormati kemanusiaan itu kita tunjukkan. Pada saat relawan dari Korea Selatan ditangkap oleh Taliban yang di Afghanistan dan dibunuh satu persatu, maka kita mengemukakan appeal supaya itu dilepaskan dan alhamdulillah berhasil. Artinya apa? Artinya dimana letak religi dan dimana letak humanitas, itu diletakkan pada porsi yang sesungguhnya.

Suasana yang di Denmark, suasana yang di Switzerland, ternyata juga menggema, bukan hanya di negara mereka, tapi menggema di seluruh dunia hanya karena kartun Nabi Muhammad yang ada di Denmark dan hanya karena di Switzerland Manoret itu secara hukum dan secara konstitusi dilarang mesjid mendirikan menara. Ini sebagai sebuah pelajaran bahwa kehati-hatian kita terhadap harkat agama yang lain menjadi kunci dari pada kita semua.

Kuncinya adalah koeksistensi, artinya masing-masing agama mempunyai eksisitensinya sendiri dan dia dipersilakan untuk beragama pada tempat itu dengan yang sebaik-baiknya tapi dia punya kooperasi yang setingkat dengan keyakinan dan imannya atau multi eksistensi maka saya sangat memahami apa yang dikhawatirkan oleh dari MATAKIN, jadi sebenarnya apa yang ada di dalam undang-undang ini justru perlindungan bukan hanya kepada mayoritas tapi justru utamanya kepada minoritas dan saya sebagai warga negara Indonesia cukup bangga karena perlindungan mayoritas kepada minoritas di Indonesia jauh lebih baik daripada perlindungan mayoritas kepada minoritas di negara-negara yang lain.

Terima kasih, wassalamualaikum wr. wb. *** [Habis]

SAUDARA SERUMPUN (Kontribusi untuk Hubungan Indonesia-Malaysia)


by : Heru Susetyo

(Writer’s note : cerpen ini pernah dimuat di majalah Annida tahun 2008, saya re-posting di FB sebagai kontribusi bagi hubungan Indonesia Malaysia, secara khusus bagi teman-teman Indonesia dan Malaysia saya di Facebook -HS)

I hate Indon !
Malingsia !
I hate Indon !
Malingsia !
I hate Indon!
Malingsia !

Demikianlah Agung dan Rashid saling bertukar sapa apabila berpapasan di kampus Thammasat University, Phra Chan, Bangkok. Agung adalah mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa pemerintah Thailand untuk studi Master bidang Thai Studies. Rashid adalah juga penerima beasiswa yang sama, namun ia berasal dari Johor, Malaysia. Agung dan Rashid bak pinang dibelah dua. Ibarat kembar tidak identik. Ibarat Thompson dan Thomson dalam komik Tintin.

Hidup di Bangkok, dimana sangat sedikit menemukan manusia berbahasa Melayu membuat mereka cepat akrab. Selalu pergi berdua kemana-mana Apabila mereka berbeda jenis kelamin, mungkin sudah terjadi cinta lokasi.

Tapi itu dulu. Sebelum pelatih karate Indonesia digebuki di Selangor, Malaysia. Sebelum Rasa Sayange dijadikan lagu pariwisata Malaysia. Sebelum Malaysia menerima muntahan asap dari Sumatera dan Kalimantan. Sebelum TKI tak terdaftar membanjiri dan menyulitkan pemerintah Malaysia.

Kini, Agung memandang Rashid bak maling. Dan Rashid memandang Agung bak TKI tak terdaftar yang disebut pendatang haram di Malaysia. Diperburuk lagi dengan lahirnya situs internet http://www.ihateindon. com dan http://www.malingsia. com yang tak jelas siapa webmaster-nya.

Yang lebih jelas adalah Agung terprovokasi. Ia tak suka disebut `Indon` yang konon berkonotasi budak. ”Panggil aku orang Indonesia, jangan disingkat jadi `Indo` atau `Indon`.” ujar Agus penuh emosi. Rashid juga terprovokasi. ”Janganlah awak sebut saya punya negeri Malingsia. Itu adalah bahagian daripada jinayah. Penghinaan,” tutur Rashid dalam logat Johor yang lumayan kental.

Maka `perceraian` pun terjadi. Agung dan Rashid `pisah ranjang.` Tak melalui masa iddah. Langsung talak tiga. Tak ada lagi agenda jalan-jalan ke Mahboonkrong dan pasar Chatuchak di Sabtu siang. Tak ada lagi Shalat Jum`at bersama di Soi 7 Petchburi road. Tak ada lagi jogging bersama di Suan Lumpini setiap Ahad pagi dan bersepeda ria di Suan Rot Fai. Tak ada lagi agenda ber-badminton ria di KBRI Petchburi Road dan bertennis ria di Malaysian Embassy Sathorn Tai road. Pusat Perdagangan IT dan Computer di Panthip Plaza, juga kehilangan mereka. Karena mereka emoh menginjak surga penikmat komputer ini apabila datang berduaan.

(Kampus Thammasat University, Phra Chan Bangkok)
”Para mahasiswa sekalian. Saya ada kabar gembira. Sebagai bagian dari kuliah kita, saya menugaskan anda untuk mengikuti simposium kebudayaan di beberapa negara Asia. Ini adalah momentum terbaik untuk komunikasi antar budaya setelah anda belajar budaya Thai selama dua semester,” ujar Ajarn Surichai pada saat awal kuliah. “Ada beberapa universitas yang mengadakan simposium pada waktu yang sama, yaitu Kyoto di Jepang, Shanghai di China, Kaohsiung di Taiwan, Dubai di Emirat Arab, Istanbul di Turki, Bandung di Indonesia dan Penang di Malaysia. Kalian akan berangkat dengan biaya universitas. Biaya transportasi, akomodasi, termasuk perdiem semua ditanggung universitas, ” lanjut Ajarn Surichai lagi. ”Puji Tuhan,” ujar Anita Chan, mahasiswa Singapura. ”Alhamdulillah ujar Rashid.” ”Mantap, jalan-jalan euy !” teriak Agung pelan.

Belum lagi Ajarn Surichai menuntaskan informasinya. Agung sudah menginterupsi.
”Ajarn, saya pilih ke Kyoto. Saya ingin melihat ibukota tua Jepang itu di musim gugur. Pasti cantik dengan banyaknya pohon yang memerah.”
Rashid tak mau kalah. ”Ajarn Surichai, please kirim saya ke Istanbul. Saya ingin menikmati Masjid Hagia Sophia dan warisan budaya Islam abad pertengahan di Bumi Eropa.
” ”Ajarn Surichai, saya pilih Dubai, kendati Emirat Arab adalah negeri Islam, namun Dubai adalah kota termaju di dunia saat ini. Saya ingin menikmati gedung tertinggi di dunia, Burj Al Dubai. Pasti asyik memandang jazirah Arab dari ketinggian 800 meter,” tutur Anita Chan polos.

”Tidak. Saya yang memutuskan. Bukan kalian. Dan saya sudah memutuskan. Michiko-san, karena anda orang Jepang anda saya kirim ke Shanghai. Anita Chan, karena anda keturunan Tionghoa, anda saya kirim ke Kaohsiung, Taiwan. So Young Park, karena kamu orang Korea Selatan, kamu saya kirim ke Kyoto, Jepang. Hussein, karena kamu dari Yordania, kamu saya kirim ke Istanbul. Naufal karena asli Yaman silakan pergi ke Dubai, Emirat Arab. Dan anda berdua, wahai warga Melayu, karena bahasa dan kultur anda nyaris sama silakan saling bertukar tempat. Agung, kamu pergi ke Penang Malaysia. Dan kamu, Rashid, pergi simposium ke Bandung,” Ajarn Surichai menjelaskan dengan tenang.

Gubrak!!! Agung seperti tertimpa meteor dari Jupiter. ”Tapi Ajarn, saya tak ingin ke Malaysia,” protes Agung. ”Ajarn, saya juga emoh ke Indonesia,” protes Rashid. Keduanya lalu saling bertukar pandangan sinis. ”huh!” sungut Agung kepada Rashid. ”Yikes!” balas Rashid kepada Agung sambil melotot.
”Tidak, Agung dan Rashid. Saya sudah memutuskan. Silakan kemasi barang kalian dan siap berangkat pekan depan. Hubungi Khun Waraporn di kantor International Students untuk arrangement ticket dan akomodasi,” jawab Ajarn Surichai santai.
”I hate Indon!” sungut Rashid kepada Agung.
”Malingsia!” balas Agung tak mau kalah.

(Bandara Bayan Lepas, Penang)
Dengan langkah gagah, sedikit arogan malah, Agung siap memasuki counter imigrasi airport Bayan Lepas, Penang. Ia mengenakan dasi dan jas. Sangat resmi. Entah terpengaruh cerita darimana. Ia sangat khawatir dianggap TKI. ”Apa pekerjaan Encik?” tanya petugas imigrasi ramah. ”I am an assistant professor in Indonesia, currently pursuing Master degree in Thailand.” Agung menjawab dalam bahasa Inggris. Sengaja, biar dianggap intelek dan tidak disamakan dengan TKI, ujar Agung dalam hati. Tapi sejatinya ia bukan asisten professor, mana ada asisten profesor masih bergelar S1? ”Nak berapa lama Encik Agung duduk di Malaysia, untuk tujuan apa, sila dikemukakan ?” tanya sang petugas lagi. ”Cik, this is actually not your business to ask me such questions, anyway, let me tell you that I am an honorable guest to give speech at Universiti Sains Malaysia’s workshop tomorrow.” Jawab Agung sombong. Dan juga bohong. Ia bukan pembicara kok. Hanya partisipan biasa. Sang petugas hanya tersenyum simpul. “Oke Cik, ini paspor anda. Sebagai ASEAN citizen encik boleh duduk di Malaysia untuk tiga puluh hari mulai tarikh sekarang.” Agung tersenyum menang. Berlalu dengan angkuh. Tanpa berterima kasih pula. Rasain lu, ujarnya dalam hati.

(Bandara Husen Sastranegara, Bandung)
Rashid turun dari pesawat Airbus A320 Air Asia. Penuh dengan kebanggaan ia menaiki maskapai pelopor low cost carrier milik Malaysia ini. Rasain kamu Agung, katanya dalam hati. Kamu ke Penang dengan Air Asia. Aku juga ke Bandung dengan Air Asia. Keduanya pesawat Malaysia. Mana ada pesawat Indonesia terbang ke luar negeri. Mendarat di Eropa saja dilarang.
Setelah satu kali transit di Kuala Lumpur, ia melanjutkan dengan direct flight menuju Bandung. Kesan pertamanya mendarat di Bandung adalah…berantakan. Bandara kok di tengah kota. Kotor. Hmmm, mereka harus melihat KL International Airport yang super megah dan Kota baru Putrajaya yang sangat multimedia-equipped , ujar Rashid dalam hati.
“Apa pekerjaan Bapak dan untuk keperluan apa ke Bandung?” tanya petugas imigrasi ramah. Ia menggunakan bahasa Indonesia karena paham orang di depannya adalah warganegara Malaysia. Sebenarnya Rashid ingin menjawab dalam bahasa Indonesia. Namun ia ingin meyakinkan orang di depannya bahwa ia warga negara terhormat negeri tetangga. “ I am an assistant professor. I was invited to give speech at a workshop organized by Padjajaran University,” Rashid menjawab dalam bahasa Inggris. Tentu saja bohong. Kata siapa ia asisten professor. Memang di Universiti Teknologi Malaysia Skudai-Johor, ia sudah tercantum sebagai calon asisten magang. Masih magang sebagai calon asisten. Bukan Asisten Professor.
”Oh, welcome to Bandung Encik. Here is your passport,” lanjut petugas imigrasi lagi. “Thank you!” jawab Rashid penuh kemenangan. Sebenarnya ia bisa saja menjawab `terima kasih`, namun egonya menahannya untuk mengucapkan kalimat tersebut.

(Di dalam Taksi Menuju USM Penang)
“Friend, please take me to USM!” ujar Agung kepada supir taksi yang menunggu di luar Bandara Bayan Lepas. Tetap menggunakan bahasa Inggris. Biar terkesan intelek. “Oh sila Bang, nak conference –kah?” supir taksi menjawab dalam bahasa Melayu. Tahu bahwa tampang penumpangnya ini tampang Melayu. “Yes I am an honorable professor from Indonesia. I am here to give speech at USM,” jawab Agung lagi. Tetap sombong. Dan tetap bohong. “Ah, seronok sekali Encik. Saya keturunan daripada Cina, tapi saya punya famili di Jakarta, Semarang, dan Surabaya,” ujar sang supir tanpa ditanya. Emang gua pikirin, jawab Agung dalam hati.

Belum lama beranjak dari Bayan Lepas Agung terkesiap. Ia baru sadar bahwa sejak masuk taksi tadi sang supir tengah menikmati lagu ‘Ada Apa Denganmu’ dari Peterpan. Sepanjang perjalanan ia mengangguk-anggukka n kepalanya dan bersiul mengikuti suara Ariel Peterpan. Usai hits Peterpan diputar, ia menggantinya dengan hits Ratu. Kini ia bersiul-siul mengikuti suara Maia Ahmad dan Mulan Kwok dalam Teman Tapi Mesra (TTM). “Hey friend, why do you sing Indonesian songs, because of me?” Tanya Agung penasaran. “Tak lah Cik, lagu Indonesia sangat famous disini. Ramai budak-budak belia Malaysia senang dengan grup muzik daripada Indonesia. Lebih kreatif dan enerjik. Tak sama lah dengan lagu-lagu daripada Malaysia. Tarikh 17 Disember nanti di Menara KOMTAR (Komplek Tunku Abdul Razak –pen.) Penang nak ada perfomance dari Dewa 19. Saya nak datang lah, nak jumpa Ahmad Dhani dan Once Dewa.” ”Hah!!!” Agung kaget sendiri.

(Di dalam Taksi Menuju Unpad Bandung)
“Bro, please take me to UNPAD campus, Dipati Ukur!” ujar Rashid sesegera setelah keluar dari Bandara Husen Sastranegara. “Apa Tuan, maaf saya tak bisa bahasa Inggris. Memang Tuan bukan orang Indonesia?” kok wajah Tuan mirip orang Sunda?” tanya supir taksi polos. Dasar Indon, bahasa Inggris saja tidak bisa, sungut Rashid dalam hati. Sementara orang Malaysia saja sekarang sudah ada yang jadi kosmonot. Ikut misi luar angkasa Rusia Oktober lepas, tambah Rashid dalam hati.

”Saya orang Malaysia, sekarang tolong bawa saya ke kampus UNPAD Dipati Ukur!” jawab Rashid dalam bahasa Indonesia yang lancar. Ia menekankan betul kalimat ”Saya orang Malaysia.” ”Oh orang Malaysia. Apa kabar Encik? Istri saya sekarang kerja di Alor Setar, Kedah. Jadi maid di rumah orang Cina.” tambah supir taksi. ”Oh ya?” hanya itu respon Rashid. Datar. Tak heran lah kalau Indon jadi maid, ramai Indon jadi maid di Malaysia, ujar Rashid, tentu saja dalam hati.

Selepas dari Bandara Husen Sastranegara, barulah Rashid sadar bahwa sedari tadi sang supir memutar tembang Cindai, yang dilagukan Siti Nurhaliza. Usai Cindai, Siti melantunkan lagu Jika karya Melly Goeslaw berduet dengan Ari Lasso. Usai Jika, Siti berduet dengan Ariel Peterpan dalam tembang Mungkin Nanti. Supir Sunda ini menikmati betul suara Siti. ”Heh Bang, jangan kerana saya daripada Malaysia, awak mainkan lagu Siti Nurhaliza!” kata Rashid geram. ”Tak lah Cik, sebelum Encik masuk teksi saya, saya sudah setel lagu Siti. Saya penggemar berat Siti. Dan bukan hanya saya, ribuan orang Indonesia senang dengan Siti Nurhaliza. Kerana ia berbusana sopan dan tentu saja, cantik ala Melayu,” sergah supir taksi. “Dan asal encik tahu saja, apabila nanti Encik jumpa dengan mahasiswa UNPAD, tanya saja siapa muslimah idola mereka. Pasti mereka jawab Nurul Izzah, putri mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Abraham yang cantik namun nampak shalihah itu,” lanjut supir taxi. “Hah!!!” Rashid tak percaya. Ternyata Siti Nurhaliza dan Nurul Izzah lebih popular di Indonesia daripada di Malaysia.

(Conference Room, USM – Penang)
Di tengah-tengah rehat workshop, Agung duduk semeja dengan lima orang Malaysia. Mereka semua adalah dosen di USM Malaysia. “Darimana Cik, oh daripada Indonesia, apa kabar? saya juga pernah studi di ITB Bandung ketika studi sarjana mechanical engineering dulu,” ujar Dosen I. “Ah dari Indonesia, piye kabare, Mas? saya punya famili di Kebumen dan Purworejo. Grandfather saya berasal dari Jawa, tapi ayah saya hijrah ke Johor, Malaysia. Hingga saya lahir di Malaysia dan jadi citizen Malaysia. Jadi maaf saya tak boleh cakap bahasa Jawa,” ujar Dosen II. “Darimana Bang, oh Indonesia. Gimana akhbar Dian Sastro dan Nia Ramadhani? Saya penggemar mereka kerana saya senang movie dan Sinetron Indonesia, lebih kreatif dari film Malaysia!” tambah Dosen III. “Darimana Pak, ah Indonesia, ahlan wasahlan fi Penang. Saya punya dua anak sekarang belajar di pondok pesantren Gontor. Satu di Pesantren putra di Ponorogo, satu lagi di pesantren putri Mantingan, Ngawi,” ujar Dosen IV penuh kebanggaan. “Darimana Bang, Ah Indonesia. Saya kagum betul dengan demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia. Kami tak bebas berdemo dan unjuk rasa di Malaysia kerana ada Internal Security Act (ISA),” ujar Dosen V yang juga aktivis LSM.

(Ruang Konferensi UNPAD, Bandung)
Usai workshop, Rashid duduk semeja dengan lima Dosen UNPAD. Berbasa-basi menunggu waktu shalat maghrib. “Darimana Kang, oh Malaysia. Apa kabar? Saya juga alumni Malaysia. Saya studi di Universiti Sains Malaysia Penang untuk Master, dan International Islamic University Malaysia di Gombak untuk Doktor,” ujar Dosen I. ”Darimana, Mas, oh Malaysia. Wilujeng Sumping. Saya juga alumni Malaysia. Saya tamat Master dari UKM Malaysia bidang medical. Satu angkatan dengan Dr. Muszaphar Shukor, kosmonot Malaysia pertama yang terbang ke luar angkasa melalui misi luar angkasa Rusia. Hebat sekali Malaysia sudah bisa mengirim orang ke langit luar. Indonesia sudah dua puluh tahun punya calon astronot, tapi tak kunjung berangkat dengan NASA, ” ujar Dosen II.“Darimana Pak, ah Malaysia. Selamat Datang. “Terus terang… dosen ini berbisik di telinga Rashid lalu melanjutkan kalimatnya… “Saya adalah penggemar berat Siti Nurhaliza dan Nurul Izzah Anwar Ibrahim. Saya sempat patah hati ketika mereka menikah di usia muda.”, ujar Dosen III. Rashid tersenyum geli lalu berkata dalam hati. Benar kata si supir taksi. Tapi ternyata tidak hanya mahasiswa, dosen-pun ternyata penggemar berat kedua puan Malaysia ini. ”Darimana Pak, Ah Malaysia, saya sering ke Malaysia dan kagum betul dengan KLIA , Menara Petronas- KLCC , dan MRT di KL. Dahysat !” ujar Dosen IV. ”Where are you from, Sir, ah Malaysia. Ahlan wasahlan! Saya pengguna setia mobil Proton Malaysia di Bandung, murah tapi tangguh!” lanjut Dosen V.

(Masjid Negeri Penang, Air Itam)
Usai workshop. Agung menunaikan shalat jama qashar di Masjid Negeri Penang, Air Itam. Agung melihat banyak jama`ah shalat menggunakan sarung Samarinda. Juga lima kelompok anak kecil sedang mengaji Al Qur`an dibimbing seorang Ustadz. Penasaran, Agung mendekati. Ah rupanya mereka menggunakan metode Qira`ati dari Indonesia. Ini dimana sih, Penang atau Jakarta? Agung jadi bingung sendiri.

(Masjid UNPAD, Dipati Ukur)
Usai workshop, Rashid menunaikan shalat jama qashar di masjid UNPAD, Dipati Ukur. Usai shalat, sayup-sayup didengarnya satu grup mahasiswa berlatih Nasyid Raihan dengan riangnya. Demi Masa, Ashabul Kahfi, Senyum, dan sederet Nasyid Raihan mereka lafazkan dengan lancarnya. Seusai Raihan, mereka melantunkan nasyid Secerah Pewarna dari The Dzikr Al Arqam. Juga dengan lancar. Raihan dan The Dzikr-Al Arqam adalah dua grup nasyid dari Malaysia yang kini sudah mulai jarang dilagukan oleh mahasiswa Malaysia. Rashid jadi ragu sendiri, benarkah aku sekarang sedang di Bandung?

(Flight Air Asia Penang-Bangkok)
Di dalam Boeing 737-400 yang membawanya ke Bangkok. Tiba-tiba Agung merasa malu jadi orang Indonesia. Pesawat yang membawanya di-delay take off selama enam jam karena bandara diliputi asap pekat. Tanpa bertanya pada siapapun Agung sudah tahu bahwa asap tersebut berasal dari pembakaran hutan di Sumatera. Ia lebih malu lagi ketika buang air kecil di tandas (toilet) bandara. Karena ia menjumpai banyak kata-kata jorok dan vulgar dalam bahasa Indonesia dituliskan di pintu tandas. Menyediakan cewek-lah, gigolo lah, dan lain-lain. Dan ia yakin penulisnya orang Indonesia, karena bahasa yang digunakan khas Jakarta dan juga khas Medan. Dan ia semakin malu ketika membaca kepingan berita di koran Utusan Malaysia yang berbahasa Melayu. ”Banjir besar terjadi di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, Indonesia. Kerajaan Malaysia mengirim tim medis daripada jabatan kesihatan aam dan daripada Bulan Sabit Merah Malaysia untuk menolong mangsa banjir di Jakarta dan sekitarnya.”

(Flight Air Asia Bandung-Kuala Lumpur-Bangkok)
Di dalam Airbus A 320 yang mengantarnya ke Bangkok. Tiba-tiba Rashid jadi malu sebagai orang Malaysia. Shame on me!, ujarnya berulangkali. Ia baru saja membaca Koran REPUBLIKA bahwa ada banyak TKW Indonesia yang pulang ke Indonesia dalam keadaan babak belur. Disiksa oleh majikannya di Kuching, Johor, ataupun Penang. Razia pasukan RELA (polisi swasta Malaysia) juga semakin ganas. Mereka tak segan menangkap dan menyiksa orang Indonesia. Sering terjadi kasus salah tangkap. Dikira TKI ternyata pelajar ataupun eksekutif Indonesia. Dan Rashid menjadi semakin malu ketika pada koran yang sama ia menemukan berita : “Banjir besar terjadi di Johor, Pahang, dan Kelantan. Korban tewas puluhan orang. Pemerintah Indonesia dan Palang Merah Indonesia mengirimkan Tim Medis, obat-obatan dan bantuan sandang pangan untuk menolong korban banjir”

(Bandara Suvarnabhumi, Bangkok)
Agung bertemu Rashid di ruang pengambilan bagasi bandara Suvarnabhumi. Pesawat Agung dari Penang berselisih sepuluh menit saja dengan pesawat Rashid dari Kuala Lumpur. Awalnya mereka sama-sama kaget dan ingin membuang muka. Namun tak sempat lagi karena sudah begitu dekat. Akhirnya mereka sama-sama berucap, ”Assalamualaikum, sawasdee khap, sabai dee mai?” .

Mereka tertawa sendiri karena mengatakan kalimat yang sama secara bersamaan. Selanjutnya mereka berbasi-basi sejenak sebelum akhirnya Agung berkata jujur : ”Rashid, ternyata Malaysia tak begitu buruk. Aku bertemu banyak orang baik di Penang. Malaysia memang Truly Asia.” ”Sama, Gung, Indonesia juga tak begitu buruk. Aku merasa feel at home di Bandung. Indonesia memang Bhinneka Tunggal Ika,” Rashid berkata sama jujurnya . ”Kalau begitu, bagaimana kalau kita ”pacaran” lagi nih?” tantang Agus. ”Siapa takut?” jawab Rashid sambil terbahak dan menonjok bahu sahabatnya itu.

”I hate Indon!” Teriak Agung.
”Malingsia!” Balas Rashid.
Tak jelas,siapa orang Indonesia dan siapa orang Malaysia.

Mahidol, Salaya 20 Desember 2007

TRANSLATE INGRIS+INDONESIA


Selamat datang di IPTEK Translator

IPTEK Translator adalah sistem penerjemah bahasa Indonesia ke bahasa Inggris dan sebaliknya dengan menggunakan teknologi penerjemahan mesin berbasis statistik, yang lazim disebut dengan Statistical Machine Translation (SMT). Sistem ini merupakan salah satu hasil riset yang dilakukan oleh Balai IPTEKnet – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak beberapa tahun terakhir. Riset ini merupakan suatu kolaborasi dengan kelompok riset internasional untuk mengembangkan teknologi bahasa (teks dan suara) dalam skala besar di Asia. Kami mengharapkan pula sistem ini merupakan salah satu kegiatan yang memajukan Free Open Source Software (FOSS) di Indonesia.

Globalisasi menghendaki setiap individu untuk berkomunikasi dengan berbagai bahasa. SMT berbasis web mewakili perangkat yang dapat membantu komunikasi antar bahasa mana pun, kapan pun, dan siapa pun menuju masyarakat informasi Indonesia.

Sistem terjemahan dengan model statistik menggunakan korpus (kumpulan kalimat) monolingual dan bilingual untuk mengembangkan kemampuan penerjemahan. Korpus paralel adalah kumpulan padanan sebuah kalimat dalam dua bahasa yang memiliki kesamaan arti. Semakin banyak korpus maka akan semakin baik pula kemampuan IPTEK Translator. Untuk itu kami juga menyediakan wadah dalam web ini untuk mendapatkan kontribusi korpus dari anda. Akhir kata selamat mencoba menggunakan IPTEK Translator ini, semoga bermanfaat, dan silahkan sampaikan saran dan kritik anda melalui formulir yang telah kami sediakan.

Dr. Ir. Hammam Riza MSc, IPM
Kepala Balai IPTEKnet-BPPT
http://translator.iptek.net.id/