Erick Thohir (MAHAKA, REPUBLIKA, TV0ne, VivaNews, NBA Philadelphia 76ers Club, DC United)


Erick Thohir, Mahaka, Republika, TvOne, NBA Philadelphia 76ers, DC United,

Erick Thohir, Mahaka, Republika, TvOne, NBA Philadelphia 76ers, DC United,

Erick Thohir (lahir di Jakarta, Indonesia, 30 Mei 1970; umur 42 tahun) adalah seorang pengusaha asal Indonesia dan merupakan salah satu pendiri Mahaka Media. Ayahnya adalah Teddy Thohir, co-pemilik dari grup otomotif Astra International dengan William Soeryadjaya, Saudaranya, Boy Thohir, adalah seorang bankir investasi, ia juga memiliki saudara perempuan, Rika. Thohir yang turut  membantu Thohir dalam mengurusi bisnis keluarga.

Thohir menerima gelar master pada tahun 1993 di Amerika Serikat. Setelah kembali ke Indonesia bersama dengan Muhammad Lutfi, Wisnu Wardhana dan R. Harry Zulnardy ia membentuk Grup Mahaka

Erick lahir dari keluarga yang berapresiasi tinggi akan media islami. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Utama Harian Republika dan perusahaannya sendiri, Mahaka Media. Selain itu, ia pernah menjabat sebagai Presiden Direktur VIVA, Beyond Media perusahaan  Anindya Bakrie pemilik Stasiun televisi tvOne and antv  Selain fokus di dunia media, Erick juga berfokus pada olahraga yang digemarinya, yaitu bola basket. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum PERBASI periode 2006-2010 dan menjabat sebagai Presiden SEABA selama dua kali, yaitu periode 2006-2010 dan 2010-2014.

Tak hanya dunia media dan bola basket yang ditekuninya, ia juga menjadi penulis bukunya yang berjudul Pers Indonesia di Mata Saya yang diluncurkan tahun 2011.

Pada tahun 2001, kelompok Mahaka membeli koran Republika , yang lagi menghadapi kebangkrutan. oleh  Karena latar belakang Erick Thohir dalam komunikasi, maka ia dipilih untuk memimpin media surat kabar tersebut, berpengalaman dengan dunia surat kabar, Thohir mendapat dukungan dari ayahnya, serta pendiri Kompas Jakob Oetama dan pendiri Jawa  Pos Dahlan Iskan, Kelompok Mahaka kemudian mengakuisisi surat kabar yang khusus mengulas tentang china, yaitu surat kabar harian Sin Chew Indonesia, yang merupakan asosiasi dari harian surat kabar Sin Chew china.

Sebuah laporan pada tahun 2009 di Jakarta Globe mencatat bahwa kepemilikan perusahaan Thorir mencakup semua lini mulai dari life style ,majalah olahraga, Orang tua Indonesia, dan Golf Digest, koran Harian Sin Chew Indonesia dan Republika , stasiun televisi JakTV , stasiun radio GEN 98,7 FM, Prambors FM , Delta FM , dan Radio Female, tidak hanya dalam media surat kabr tapi merambah media iklan, tiket, hiburan dan situs Web. Ia juga merupakan pendiri dari dua badan amal , yang  berorientasi dalam bidang pendidikan, yaitu  Darma Bakti Mahaka Foundation dan Dompet Dhuafa Republika.

yang paling heboh dia juga orang asia pertama yang membeli klub Bola Basket NBA di Amerika bersama Jason Leiven pada tahun 2011, Setelah beberapa bulan perundingan  yang alot beberapa hari setelah Liga Basket  All-Star NBA 2011– dia bersama mantan agen Basket Jason Levien,  Joshua Harris, Thohir menjadi bagian dari konsorsium yang membeli Philadelphia 76ers , sebuah Tim Bola Basket  NBA , diantara para konsorsium juga termasuk aktor Will Smith , istrinya Jada Pinkett Smit.. itulah  makanyaThohir adalah orang Asia pertama yang memiliki Club Bola Basket NBA di Amerika.

Thohir ia juga pernah menjadi presiden dari Asia Tenggara Basketball Association sampai dengan tahun 2006, presiden Indonesia Basketball Association (Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia). [Dia juga pemilik tim basket Satria Muda Britama Jakarta dan Indonesia Warriors.

Yang paling membanggakan lagi Pada tahun 2012 ini, Thohir dan Levien menjadi pemilik saham mayoritas atas Major League Soccer klub (MLS Liga) DC United .dan dia juga menjadi orang pertama asia yang membeli sebuah club di Amerika. Menurut kabar terbaru dia juga siap membangun Stadion untuk DC United, Penantian sepanjang satu dekade akan selesai dalam mendapatkan stadiun baru,  selama ini DC united belum mempunyai Stadiun Sendiri mereka hanya Menyewa RFK Stadium yang telah berusia 51 tahun milik pemerintah kota. Padahal peserta MLS liga sebanyak 19 Tim sudah memiliki Stadiun Sendiri.

Berikut data pribadi :

Nama              : Erick Thohir

Lahir                            : Mei 1070

Kebangsaan : Indonesia

Pekerjaan      : Pengusaha

Agama                       : Islam

berita lain tentang Erick Thohir

1. Andrie Wongso.com

2. Jurnalis TV

3. SWA.co.id

BELAJAR GOBLOK DARI BOB SADINO


James Allen dalam buku “As A Man Thinketh” tahun 1902, mengatakan bahwa “lingkungan tidak membentuk sebuah individu, lingkungan hanya menyingkap sosok sebuah individu.” Menurut Allen, setiap lingkungan pertumbuhan-betapa pun buruk kelihatannya-selalu menawarkan peluang yang unik untuk tumbuh. Bahkan lingkungan sekitar, sepertinya memang dirancang khusus untuk mengeluarkan sisi terbaik kita. Begitu pula dengan kondisi lingkungan di mana bob sadino kecil tumbuh.

 

Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara dalam sebuah keluarga yang sangat berkecukupan. Ayahnya yang berprofesi sebagai seorang guru, mengajar di sekolahan Belanda. Sebuah profesi yang bukan hanya membuat keluarganya cukup terpandang ketika itu, tetapi juga sekaligus terpelajar. Tak heran kalau di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Menteng, Bob Sadino kecil selalu dipanggil dengan sebutan “sinyo” oleh anak-anak kampung di sekitar rumahnya. Setelah orang tuanya meninggal,Bob-yang pada waktu itu berumur 19 tahun-memutuskan untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itulah ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia terakhir bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga Hamburg, Jerman. Di negeri kincir angin itu pula, Bob kemudian bertemu dengan Soelami Soejoed, pegawai Bank Indonesia yang tengah bertugas disana, yang kemudian menjadi istrinya

Setelah belasan tahun menetap di Eropa-pada tahun 1967-Bob memutuskan keluar dari Djakarta Llyod untuk pulang ke Indonesia. Ia mengaku sudah tidak mau lagi bekerja di bawah perintah orang lain, dan ingin bertanggung jawab pada diri sendiri. Karena itulah, ketika kembali ke Jakarta, ia membawa serta dua buah mobil Mercedes miliknya. Di mana salah satunya, kemudian ia tukarkan dengan sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan, sementara yang satunya lagi tetap ia pertahankan.

 

Pekerjaan pertama yang dijalaninya sekembalinya dari eropa adalah menyewakan mobil Mercedes miliknya, dimana ia sendirilah yang menjadi sopirnya. Sayang, suatu ketika ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu atau kuli bangunan. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. “Banyak pengalaman lucu selama periode miskin itu, yang sampai sekarang masih selalu teringat. Suatu malam ketika saya kehabisan rokok, istri saya berkata : kalau sekarang beli rokok, berarti besok kita nggak bisa beli makanan. Jadi kita mesti menentukan, apakah memilih besok tetap bisa makan atau sekarang bisa merokok?” kenangnya

 

Sampai suatu hari, ia menyadari perbedaan antara telur ayam di Indonesia dengan telur yang ada di negeri Belanda. “Ketika itu orang Indonesia hanya mengenal telur ayam kampung, sehingga banyak ekspatriat yang kesulitan mendapatkan telur. Karena disamping berbeda jenis, kapasitas ayam kampung dalam bertelur, paling hanya belasan butir per-tahun”. Karena melihat perbedaan itulah maka Bob kemudian menulis surat kepada kawannya yang tinggal di Belanda, untuk mengirimkan anak-anak ayam petelur. Hal yang sama terjadi sekali lagi pada saat Bob melihat “perbedaan” antara ayam pedaging dengan daging ayam kampung. Ia pun sekali lagi meminta kawannya untuk mengirimkan bibit ayam pedaging, atau yang sekarang kita kenal dengan ayam lehorn.

Inilah awal dari sebuah langkah pertama saya, yang tanpa konsep, tanpa rencana, hanya bergulir begitu saja, jadi apa susahnya? Kalau kemudian orang-orang hanya melihat apa-apa yang sekarang saya punya, semua itu hanyalah akibat-akibatnya saja. Akibat dari serangkaian langkah yang mulai saya lakukan pertama kali itu. Bagaimana mungkin saya bisa merencanakan ini semua? Orang saya hanya mulai dari memelihara ayam, dan karena ayam-ayam itu bertelur dalam jumlah banyak, makanya secara naluri saya mulai menawarkan kepada para tetangga. Saya pergi membawa 3 kilogram ke kiri, dan istri saya membawa 4 kilogram ke kanan. Kami pun mulai menawarkan telur-telur itu dari pintu ke pintu. Dalam kondisi seperti itu, mana mungkin saya berani berencana untuk suatu hari membangun Kem Chick, Kem Food, Kem Farm, apa lagi sampai kemudian membangun apartemen?

Meskipun begitu-tak dapat dipungkiri lagi-Bob Sadino lah orang yang pertama kali memperkenalkan kepada masyarakat negeri ini, berbagai khazanah sayur-mayur, buah-buahan termasuk telur dan ayam pedaging. Ia lah yang pertama kali memperkenalkan buah melon yang sekarang kita kenal, ia pula yang memperkenalkan jagung manis, selada, paprika, dan berbagai sayur lainnya. Bob Sadino pula orang pertama di Indonesia yang menggunakan peladangan dengan sistem hidroponik. Bahkan sebuah catatan di awal tahun 1985 menyebutkan, bahwa rata-rata per bulan perusahaan Bob Sadino mampu menjual 40-50 ton daging segar, 60-70 ton daging olahan, dan sayuran segar 100 ton.

Tak hanya itu, ia pula satu-satunya orang Indonesia yang sampai hari ini, mengekspor ribuan ton sayur-mayur dan buah-buahan ke Jepang. Sebuah kegiatan yang tak hanya melulu bermakna keuntungan besar-akan tetapi justru lebih utama-berarti tingkat kepercayaan tinggi dan sustainable dari orang-orang Jepang kepadanya. Mengingat, dalam soal sayur-mayur, masyarakat Negeri Sakura itu terkenal sangat ketat dan berekspektasi tinggi. Hebatnya lagi, ia selalu dapat memenuhi suplai dalam jumlah yang sangat kolosal tersebut. Bob Sadino tidak memiliki sejengkal tanah pertanian pun. Bagaimana bisa? “Sejak awal saya bermitra dengan para petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Merekalah yang menanam sayur atau buah yang dibutuhkan oleh orang Jepang.”

 

Tapi bagaimana caranya membuat para petani itu selalu bersedia menanam sayur dan buah-buahan yang om Bob mau? Karena apa jadinya kalau suatu kali para petani itu tergoda untuk menjual hasil tanamannya ke pasar lokal atau ke pembeli lain? “Kalau anda orang pintar, pasti akan bingung mengatasi persoalan seperti itu. Untungnya saya orang goblok, sehingga cara berpikir saya sangat sedehana. Di awal saya selalu bertanya kepada para petani, berapa rupiah rata-rata hasil mereka dalam setahun, dari menanam berbagai tanaman? ketika mereka menjawab-katakanlah 100 sampai 150 setahun-maka saya akan bertanya: mau nggak kalian menanam untuk saya, dengan penghasilan antara 300 sampai 500 setahun? Yang pasti, mereka nggak akan pernah menolak. Dalam kasus lain saya membuka harga yang saya terima dari pihak buyer di Jepang kepada para petani. Katakanlah, harga beli dari pihak Jepang adalah 10 rupiah per-ton, lalu saya memberikan kepada mereka yang 8 rupiah, sedangkan untuk saya 2 rupiah. Dengan pembagian seperti itu, apa yang kemudian terjadi? Bukan hanya mereka akan menjadi sangat loyal kepada saya, bahkan boleh dikata, mereka menyerahkan seluruh hidupnya untuk saya.”

 

Dari semua pergumulan tersebut, antara kesenangan – kesulitan, fokus dan semangat untuk terus melangkah maju, Bob Sadino yang lahir di Lampung, 9 Maret 1933, kini telah mencapai berbagai keberhasilan hidup. Tak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk kontribusi. Bapak dari dua orang putri ini, sudah cukup lama mempercayakan perusahaannya kepada para eksekutif, sehingga sehari-hari ia bisa leluasa mondar-mandir memenuhi undangan dari berbagai kampus dan Perguruan Tinggi di tanah air, untuk memberikan ceramah dan membagi wawasan. Lalu dengan berbagai pencapaiannya itu, apa makna sukses bagi seorang Bob Sadino? “Bagi saya sukses adalah, bilamana apa yang saya harapkan, kemudian itu pula yang saya dapatkan, itulah sukses. Jadi kalau di hari-hari kemarin saya lapar, sehingga mengharapkan besok bisa makan, dan ternyata besok saya benar-benar dapat makan, maka saya sudah sukses.”

 

“Buat saya nasi sepiring itu sudah baik. Orang mencari macam-macam itu kan karena tidak pernah menghargai nilai sepiring nasi untuk dimakan besok? Saya menghargai itu, karena saya pernah lapar dan tidak memiliki makanan sama sekali. Sepiring nasi itu punya arti yang sangat besar, bagi saya. Sesederhana itu! Mungkin titik berangkat itulah yang bisa membuat saya begini hari ini. Kebanyakan orang tidak bisa menghargai sepiring nasi, karena mungkin mereka belum pernah lapar. Sehingga bisa makan sepiring nasi, dianggap sekedar taken for granted, kewajaran. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang dipinggir jalan itu ?

 

Dari sekilas hidup dari om Bob Sadino, kita bisa menemukan satu gaya lain dari sebuah proses pembelajaran, yaitu melalui praktik, praktik, dan praktik, yang ia kiaskan sebagai sekadar melangkah. Bayangkan, saat ia mulai pertama kali memelihara ayam petelur? Berapa dari ayam-ayam tersebut yang sakit, bahkan yang kemudian mati? apa maknanya? ia mesti belajar mengenal dan “mendengar” ayam-ayam tersbut, agar bisa menjaga kelangsungan hidupnya. Begitu pula dengan ayam pedaging. Lalu bagaimana waktu ia pertama kali menanam dengan teknik hidroponik? Bagaimana pula dengan munculnya ide untuk menjual Chicken Part? atau Four Leg Chicken? “Saya mungkin bagi orang lain terdengar seperti orang gila, tetapi sejujurnya, saya selalu bisa mendengarkan apa yang yang diungkapkan oleh sebatang tanaman. Misalnya, kapan ia merasa haus sehingga butuh minum, atau kapan ia justru kebanyakan air sehingga perutnya merasa kembung. Sampai saya bisa mengerti, makanan apa yang kurang, zat kandungan dalam tanah apa yang ia butuhkan, dan sebagainya”.

 

Singkatnya Bob Sadino tidak pernah berhenti belajar. Bahkan kalau pada hari-hari ini anda berkunjung ke rumahnya yang asri di bilangan Jakarta Selatan itu-barangkali anda temui-ia tengah khusuk membca buku di ruang kitchen, yang menjadi tempat favoritnya

 

(Sumber : Pinky Angga Merdeka)

Kareem Abdul Jabbar, Lompatan Iman Raja Basket


Islam adalah anugerah yang tinggi dalam menunjukkan jalan kebenaran umat manusia.

Sosok Kareem Abdul Jabbar diakui banyak pemain basket sebagai salah satu pemain basket terbesar sepanjang masa. Shooting, Slam dunk, rebound, block , maupun aksi lainnya, sangat memukau. Tak jarang, lawannya dibuat kesulitan untuk membendung agresivitas pemain bertinggi badan 2,18 meter ini.

Dengan dukungan postur tubuhnya yang sangat tinggi, Kareem Abdul Jabbar sering kali melakukan aksi yang brilian. Lompatannya sering mengundang kagum para penonton maupun tim lawan. Atas aksi dan kesuksesannya membawa klubnya meraih tangga juara, Kareem Abdul Jabbar pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik di kompetisi liga bola basket Amerika Serikat (NBA Most Valuable Player ). Predikat itu diraihnya sebanyak enam kali.

Selama bermain di ajang NBA, ia berhasil membukukan rekor sebagai pencetak angka tertinggi sepanjang masa dengan 38.387 poin. Karenanya, ia mendapat julukan ‘Raja Bola Basket’. Dan berkat prestasinya ini, 19 kali ia terpilih untuk memperkuat tim NBA All-Star.

Karier pria kelahiran New York City, 16 April 1947, di ajang bola basket Amerika dimulai ketika bermain untuk tim bola basket kampus, Universitas California, Los Angeles (UCLA). Aksi-aksinya di tim UCLA, mendapat perhatian serius para pelatih basket Amerika Serikat saat itu.

Dan tahun 1969, ia mendapat tawaran bermain di level kompetisi basket tertinggi di Amerika Serikat (NBA) dengan bergabung bersama klub Milwaukee Bucks. Di klub barunya ini, ia turut memberi andil besar dengan merebut juara NBA tahun 1970-1971.

Pada 1975, ia bergabung dengan tim basket asal Kota Los Angeles, LA Lakers. Di klub inilah karier Kareem makin melesat. Ia berhasil membawa La Lakers merebut sejumlah gelar juara untuk klubnya. Di samping itu, ia juga berhasil merebut gelar pribadi, yakni sebagai pemain terbaik NBA. Di klub ini, ia bermain sejak 1975-1989.

Masuk Islam
Atas aksi-aksinya yang hebat itu, Kareem menjadi salah satu pemain andalan NBA All-Star dan Amerika Serikat dalam ajang Olimpiade. Ia juga menjadi pemain kebanggaan negeri Paman Sam tersebut. Tak hanya itu, ia juga merupakan pemain kebanggaan umat Islam di seluruh dunia.

Ya, pemain bernama lengkap Ferdinand Lewis Alcindor Junior (Jr) ini, adalah salah seorang atlet NBA pemeluk Islam. Ia mendeklarasikan diri sebagai seorang Muslim pada saat kariernya tengah menanjak.

Saat itu, seusai mempersembahkan gelar juara NBA untuk Milwaukee Bucks tahun 1971, dan pada saat yang sama merebut gelar pemain terbaik ( Most Valuable Player , MPV) dan ‘Rookie of the Year’ (Pendatang baru terbaik) di Liga NBA, Kareem menyatakan diri memeluk Islam. Perpindahan kepercayaan dari Katolik menjadi Muslim ini, dirasakannya sebagai sebuah lompatan tertinggi selama hidupnya.

Ayahnya, Ferdinand Lewis Alcindor Sr, dan ibunya, Cora Lilian, adalah seorang pemeluk Katolik. Karenanya, sejak kecil ia mendapatkan pendidikan di sekolah Katolik. Oleh kedua orang tuanya, ia dimasukkan ke Saint Jude School. Ketika duduk di bangku SMA, ia berhasil membawa tim basket sekolahnya menjuarai New York City Catholic Championship.

Perkenalan Kareem dengan ajaran Islam terjadi lewat salah seorang temannya yang bernama Hamaas Abdul Khaalis. Ia mengenal Hamaas melalui ayahnya. Seperti halnya sang ayah yang seorang musisi jazz, Hamaas juga pernah mengeluti musik jazz. Dia adalah mantan drumer jazz. Dari Hamaas inilah, kemudian Kareem belajar banyak mengenai Islam. Ia juga sempat berkenalan dengan Muhammad Ali (Cassius Clay) yang sudah menjadi Muslim.

Nama budak
Setelah banyak belajar Islam dari Hamaas, tekadnya untuk memeluk Islam pun semakin bulat. Atas ajakan Hamaas, ia kemudian mendatangi sebuah pusat kebudayaan Afrika di Harlem, di mana kaum Muslimin menempati lantai lima gedung itu. ”Saya pergi ke sana dengan mengenakan jubah Afrika yang berwarna-warni,” terangnya.

Kepada seorang pemuda yang ditemuinya di pusat kebudayaan Afrika ini, ia mengutarakan niatnya untuk menjadi seorang Muslim. Di hadapan mereka, ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika pertama kali mengucapkan kalimat syahadat, mereka memanggilnya dengan Abdul Kareem.

Namun, Hamaas berkata, ”Anda lebih tepat sebagai Abdul-Jabbar.” Sejak saat itu, bertepatan dengan tanggal 1 Mei 1971 atau sehari setelah Milwaukee Bucks memenangi kejuaraan NBA, ia memutuskan untuk mengganti namanya dari Ferdinand Lewis Alcindor Jr menjadi Kareem Abdul-Jabbar. Keputusan untuk mengganti nama tersebut, menurut Kareem, juga didorong keinginan untuk menguatkan identitasnya sebagai orang Afro-Amerika dan sebagai seorang Muslim.

”Saya tidak akan menggunakan nama Alcindor. Secara literal itu adalah nama budak. Ada seorang laki-laki bernama Alcindor yang membawa keluarga saya dari Afrika Barat ke kepulauan Dominika. Dari sana mereka pergi ke kepulauan Trinidad, sebagai budak, dan mereka mempertahankan namanya. Mereka adalah budak-budak Alcindor. Jadi, Alcindor adalah nama penyalur budak. Ayah saya melacak hal ini di tempat penyimpanan arsip,” terangnya.

Sebagai anak satu-satunya, keputusan Kareem untuk memeluk Islam sempat membuat khawatir kedua orang tuanya. Namun, kekhawatiran tersebut berhasil ia tepis. ”Mereka tahu saya bersungguh-sungguh. Saya pindah agama bukan untuk ketenaran. Saya sudah menjadi diri saya sendiri, dan melakukan itu dengan cara saya sendiri, apa pun konsekuensinya.”

Baginya, Islam adalah anugerah dan hidayah Allah yang tertinggi dalam menunjukkan jalan kebenaran bagi umat manusia.

Rajin Belajar

Di sela-sela kesibukannya bermain basket, Kareem masih sempat meluangkan waktu untuk mendalami Islam. ”Saya beralih ke sumber segala ilmu. Saya mempelajari bahasa Arab. Saya mulai membaca Alquran dalam bahasa Arab. Saya dapat menerjemahkannya dengan bantuan kamus. Untuk menerjemahkan tiga kalimat saya membutuhkan waktu 10 jam, tetapi saya memahami apa yang dimaksudkan secara gramatikal,” ujarnya.

Namun, diakui dia, cukup sulit baginya untuk bisa menunaikan kewajiban shalat lima kali setiap hari. Kesulitan untuk menjalankan shalat lima waktu ini, terutama dirasakan ketika ia sedang bermain. ”Saya terlalu capai untuk bangun melakukan shalat Subuh. Saya harus bermain basket pada waktu Maghrib dan Isya. Saya akan tertidur sepanjang siang di mana saya seharusnya melakukan shalat Zuhur. Begitulah, saya tidak pernah bisa menegakkan disiplin itu,” paparnya.

Begitu juga tatkala bulan Ramadhan tiba. Aktivitasnya yang cukup padat di lapangan, terkadang memaksanya untuk membatalkan puasa. Untuk membayar utang puasanya ini, Kareem selalu mengeluarkan fidyah.

”Karena saya tidak dapat berpuasa di bulan Ramadhan, saya selalu memberi makan sebuah keluarga. Saya memberi sedekah. Saya memberi uang kepada rekan sesama Muslim dan mengatakan kepadanya untuk apa uang itu.” Pada 1973, Kareem mengunjungi Makkah, dan menunaikan ibadah haji.

Pada 28 Juni 1989, setelah 20 tahun menjalani karier profesionalnya, Kareem memutuskan untuk berhenti dari ajang NBA. Sejak berhenti bermain, menurut Kareem, dirinya menjadi semakin baik dan dapat menjalankan semua kewajibannya sebagai seorang Muslim.

”Saya rasa saya harus beradaptasi untuk hidup di Amerika. Yang dapat saya harapkan hanyalah semoga pada Hari Akhir nanti Allah rida atas apa yang telah saya lakukan,” tukasnya.

Antara Akting, Menulis, dan Melatih

Setelah pensiun bermain basket, berbagai tawaran datang kepadanya. Namun, bukan tawaran untuk melatih sebuah tim bola basket, melainkan tawaran untuk beradu akting di depan kamera. Dunia akting sebenarnya bukan merupakan hal yang baru bagi seorang Kareem Abdul-Jabbar. Ketika masih memperkuat LA Lakers, ia pernah bermain di film Game of Death yang dirilis tahun 1978. Di film laga ini, ia harus beradu akting dengan Bruce Lee. Tawaran untuk bermain kedua kalinya di film layar lebar datang di tahun 1980. Saat itu ia harus memerankan tokoh kopilot Roger Murdock dalam film komedi Airplane! .

Penampilan Kareem di layar televisi dan film tidak berhenti sampai di situ. Ia tercatat pernah bermain di sejumlah serial televisi di Amerika Serikat. Di antaranya adalah serial komedi situasi Full House, Living Single, Amin, Everybody Loves Raymond, Martin, Different Strokes, The Fresh Prince of Bel-Air, Scrubs , dan Emergency! . Dia juga muncul di film televisi Stepen King’s The Stand dan Slam Dunk Ernest . Di serial Full House , ia harus beradu akting dengan anaknya sendiri, Adam.

Pada 1994, Kareem juga menjajal peruntungannya di balik layar dengan menjadi co-producer eksekutif dari film televisi The Vernon Johns Story . Kemudian pada 2006, ia tampil dalam acara The Colbert Report . Pada 2008 ia berperan sebagai seorang manajer panggung dalam Nazi Gold .

Di luar dunia akting, ternyata ayah dari Habiba, Sultana, Kareem Jr, Amir, dan Adam ini memiliki bakat yang lain, yakni dalam bidang tulis menulis. Selain dikenal sebagai pemain basket dan bintang film, Kareem juga dikenal sebagai seorang penulis buku. Ia sudah menulis sedikitnya tujuh buku yang kesemuanya best seller .

Buku-buku hasil karyanya, antara lain Giant Steps yang ditulisnya bersama Peter Knobler (1987), Kareem (1990), Selected from Giant Steps (1999), Black Profiles in Courage: A Legacy of African-American Achievement yang ditulisnya bersama Alan Steinberg (1996), A Season on the Reservation: My Sojourn with the White Mountain Apaches yang ditulisnya bersama Stephen Singular (2000), Brothers in Arms: The Epic Story of the 761st Tank Battalion dan WWII’s Forgotten Heroes yang ditulisnya bersama Anthony Walton (2005), dan On the Shoulders of Giants: My Journey Through the Harlem Renaissance yang ditulisnya bersama Raymond Obstfeld (2007).

Kendati demikian, olahraga basket tidak bisa dipisahkan dari diri Kareem. Salah satu keinginan terbesarnya saat ini adalah bisa melatih salah satu klub NBA. Setelah memutuskan berhenti bermain, posisi tertinggi Kareem hanya sebagai asisten pelatih sejumlah klub NBA. Los Angeles Clippers dan Seattle SuperSonics menggunakan jasanya untuk melatih center muda Michael Olowokandi dan Jerome James.

Pada 2005, ia kembali ke Lakers sebagai asisten khusus pelatih kepala Phil Jackson. Tugasnya mengasah kemampuan center muda Lakers, Andrew Bynum. Ia dinilai berhasil dengan semakin meningkatnya performa Bynum. Musim lalu, Kareem berjasa mengantarkan Lakers juara NBA dengan kontribusi 14 poin dan delapan rebound per game .

Ia juga pernah menjadi pelatih kepala, tapi hanya di tim sekelas Oklahoma Storm. Tim ini bermain di United States Basketball League pada 2002, sebuah liga kelas bawah tempat para pemain mengasah kemampuan sebelum berkiprah di NBA atau liga-liga lain. dia/sya/taq

Biodata :

Nama Asli : Ferdinand Lewis Alcindor Jr
Nama Muslim : Kareem Abdul Jabbar
Masuk Islam : 1971
Lahir : New York City, 16 April 1947
Orang Tua : Ferdinand Lewis Alcindor Sr dan Cora Lilian
Klub Pertama : Tim Basket UCLA

Klub Profesional :
– Milwaukee Bucks (1969-1975)
– LA Lakers (1975-1989)

Penghargaan:
– Enam kali NBA MPV (1971-1972, 1974, 1976-1977, 1980)
– 19 kali menjadi tim NBA All Star (1970-1977 dan 1979-1989).
– Dua kali Finalis NBA MPV (1971, 1985)
– 10 kali All-NBA Team (1971-1973, 1974, 1976-1977, 1980-1981, 1984, 1986).
– Lima kali All-NBA Second Team (1970, 1978-1979, 1983, 1985).
– Lima kali NBA All-Defensive First Team (1974-1975, 1979-1981)
– Enam kali NBA All-Defensive Second Team (1970-1971, 1976-1978, 1984).
– NBA Rookie of The Year (1970)
– NBA All-Rookie Team (1970); dan banyak lagi

Prestasi :
– Juara NBA (1971) bersama Milwaukee Bucks
– Juara NBA (1980, 1982, 1985, 1987, 1988) bersama LA Lakers

NAOMI SUSAN



Pengusaha yang satu ini baru berusia 33 tahun. Dia cerdas dan cantik. Orang mengenalnya dengan panggilan: Naomi Susan. Bos di Grup Ovis tersebut punya garapan bisnis yang beragam. Tapi, dia mengaku bingung soal jumlah asetnya. “Saya bingung kalau ditanya soal aset atau kekayaan yang sudah saya miliki. Berputar sih, jadi susah menghitungnya,” ujarnya lantas tertawa.

Rambut panjangnya yang dicat dengan warna keemasan dibiarkan tergerai. Mengenakan blazer krem, penampilan Naomi tampak pas dipadu celana panjang warna senada. Seuntai kalung indah bermata huruf NS (singkatan dari namanya) mengitari lehernya. “Terima kasih,” ujarnya saat dipuji Jawa Pos bahwa penampilannya begitu sempurna.

Lisptik merah dioleskan tipis di bibir mungilnya. Make-up-nya cukup natural. Meski demikian, dia mengaku berdandan dulu di salon sebelum menemui Jawa Pos. “Makanya aku sedikit terlambat,” tuturnya. Naomi lantas memesan seporsi pisang goreng keju dan lumpia sebagai teman berbincang.

Naomi adalah pemegang rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai pembeli pertama notebook berlapis emas dan bertakhtakan berlian. Dia membeli komputer jinjing itu seharga Rp 100 juta. Perempuan kelahiran 15 Januari 1975 itu kini menakhodai sejumlah perusahaan yang berkibar di bawah Grup Ovis. Mulai Ovis Utama, Ovis International, Ovis Bursa Bisnis, Ovis Direct Connection, Ovis Pro-interactive. Ovis Sendnsavem, dan OvisSms. Naomi juga tercatat sebagai CEO di Naomi Susan (NS) Group. Di NS Group itu, ada perusahaan-perusahaan macam Natural Salon, Nice Shot Studio, iNSpired Indonesia, Creative Solutions, dan Institute Optopreneur Representative Indonesia. Gurita bisnis membentang dari kafe, kartu diskon, hingga salon.

Dari Ovis International saja, dia pernah menyebut mengantongi keuntungan Rp 2 miliar per bulan. Ada 200 perusahaan lebih yang menjadi kliennya. Tapi, dia selalu mengelak ketika diminta menyebutkan jumlah kekayaannya. “Berapa ya, waduh bingung, Mas,” katanya.

Namun, dia meminta orang tak memandang dirinya dari luar saja. “Jangan dilihat, sekarang Naomi itu hidup enak, mau ngapaian aja bisa. Tapi, lihat prosesnya,” ujarnya dengan mimik serius.

Dia menekankan bahwa hasil memuaskan itu butuh proses. Butuh kerja keras. Kerap kali pil pahit justru harus ditelan jika ingin sukses berbisnis dan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. “Jika saya sudah sampai seperti saat ini, tentu saya bersyukur. Tapi, ingat, ini bukan sesuatu yang tiba-tiba,” ujarnya.

Naomi adalah prototipe pekerja keras. Latar belakang keluarganya sederhana. Dia menyaksikan sendiri ketika sang ibu harus berpisah dengan ayahnya. “Kerja keras Mama membimbing kami, menyekolahkan anak-anaknya membuat saya tahu apa itu arti perjuangan,” ceritanya. “Saya terbiasa mandiri. Terbiasa menerima hal-hal yang pahit.”

Dia mengenang, dulu ketika duduk di bangku SMA, sudah membantu tantenya berbisnis jual-beli tanah. “Saat itulah saya bisa mencari uang sendiri,” kenangnya. “Rasanya bangga bisa cari uang sendiri,” lanjut penggemar sea food itu. Sesekali Naomi menata rambut panjangnya.

Sepulang dari AS pada 1995, pascakuliah di University of Portland, Oregon, dia memulai karir sebagai manajer pemasaran di Indomarble Machinery. Di sana hanya setahun. Dia kemudian berlabuh menjadi account executive di sebuah perusahaan periklanan. Namun, itu pun hanya setahun.

Dia kemudian memutuskan mencoba menginvestasikan uangnya ke pasar modal. Itulah kali pertama bagi Naomi berbisnis dengan uang sendiri. Ketika membantu sang tante jual-beli tanah semasa SMA, dia lebih berperan menjadi semacam asisten. “Pertama kali mulai mencoba memutar uang pribadi, saya justru menghadapi hal yang tidak mengenakkan,” cerita penggemar warna merah itu.

Saat itu dia memutuskan menginvestasikan tabungan dengan membeli saham di lantai bursa. Dia mengaku kalah banyak karena saham yang dibeli jeblok. “Saat itu saya mulai berpikir nggak mau lagi bisnis pakai uang sendiri. Kalau nggak berhasil, bisa hancur lebur,” ceritanya. Dia berpikir, lebih enak bekerja menjadi karyawan di perusahaan orang lain. “Penerimaan stabil, dapat gaji setiap bulan. Lebih aman,” ujarnya.

Dia hampir frustrasi. Naomi pun ingin menutup rasa sesalnya dengan melanjutkan kuliah ke Australia. Namun, di antara kebimbangan itu, Naomi yang masih trauma berwiraswasta memutuskan ingin menjadi karyawan swasta. Surat lamaran pun dilayangkan ke PT Ovis Utama, perusahaan yang kelak dia nakhodai dan membawa namanya diperhitungkan sebagai miliarder muda. Ovis, kala itu, adalah perusahaan jaringan diskon. Bidang garapannya masih di jaringan diskon restoran. “Saat itu (lamaran) saya sempat ditolak, tapi kemudian dipanggil lagi,” katanya. Sejak saat itu, Naomi yang masih betah melajang ini berkarir sebagai staf public relation di Ovis.

Tak berselang lama, Naomi ditawari membeli saham di perusahaan tempat dia bekerja. Itu terjadi kala memegang franchise dari Card Connection International. “Aku semula ragu, takut menggunakan uang pribadi dalam berbisnis,” katanya. Namun, akhirnya dia bertekad mengambil tantangan tersebut. Saat itu Ovis memegang lisensi dari Card Connection International. Dia pun melejit lewat anak usaha Ovis, PT Ovis International yang bergerak di bidang kartu diskon card connection.

Naomi yang mengaku tak punya tempat liburan favorit itu kemudian mampu melewati fase krisis 1997-1998 dengan manis. Dia, berbekal keberanian memutuskan hal-hal krusial dalam waktu yang singkat, mampu membawa perusahaannya melebar, merambah ke bidang restoran, kafe, jual beli properti, sampai pesawat carter. Bahkan, kini dia pun merambah ke bisnis waralaba salon.

Saya Ingin Menjual Kegagalan

Naomi Susan termasuk orang yang tidak pelit membagikan ilmu. Dia tak segan-segan membagikan tip berbisnis kepada kolega-koleganya. “Dengan membagi-bagikan ilmu seperti itu, aku tidak takut mendapat pesaing baru. Justru kemampuan kita akan banyak terasah,” terang sosok yang mengidolakan Bob Sadino itu. “Yang penting bagi aku adalah bagaimana memenangkan persahabatan,” lanjutnya.

Naomi lantas bercerita soal struktur karyawan di perusahaannya. Menurut dia, setiap perusahaan harus punya kuda jinak dan kuda liar. “Tipe kuda jinak akan melindungi perusahaan, sementara kuda liar untuk marketing perusahaan,” jelasnya. Kuda liar itulah, kata dia, yang lebih banyak memberikan manfaat bagi bisnisnya.

Meski menakhodai banyak perusahaan, Naomi bukanlah sosok yang dikendalikan waktu. Sebagai bos, dia bebas ke mana saja. “Saya nggak punya waktu liburan yang terencana. Kalau mau liburan, ya langsung libur,” ujarnya. Ke mana tempat favorit berlibur? “Nggak ada. Saya bukan orang yang senang lihat gunung, senang lihat pantai. Pokoknya, pengin ke mana gitu, saya langsung ngajak keluarga berangkat,” terangnya.

Naomi kerap menggunakan cara-cara “mendadak” semacam itu untuk berlibur. “Enak rasanya bareng satu keluarga berlibur, biasanya kita carter pesawat,” tuturnya.

Naomi kini tinggal di sebuah apartemen di kawasan Jakarta Barat. Sehari-hari, dia beraktivitas dengan BMW seri 3 berwarna merah yang telah dianggapnya sebagai kekasih. “Kalau naik mobil itu, saya seperti berada di rumah sendiri. Pokoknya, mobil itu lebih dari sekadar teman,” katanya.

Naomi kini mengaku benar-benar ingin menikmati hidup dengan lebih rileks, tak ingin terlalu diburu obsesi dan ambisi. Dia ingin menerapkan filosofi air; hadir dan mengalir. “Saya sebenarnya ditawari mengerjakan banyak proyek bisnis, tapi saya nggak mau aji mumpung. Harus ada yang ngerem saat kita digoda banyak obsesi,” ujarnya.

Prinsip Naomi adalah bagaimana mempertahankan kualitas dengan menolak penawaran proyek yang dalam jangka pendek jelas tak bisa dikerjakan. “Artinya, bisa mengukur diri,” imbuhnya. Karena itu, dia kini mengaku hanya fokus pada empat perusahaan. Lini perusahaan lainnya diserahkan kepada karyawan-karyawannya.

Dengan alasan itulah, banyak tawaran bisnis baru yang dikesampingkan. “Aku cuma ingin jadi pribadi yang seimbang,” tuturnya.

Maksudnya, lanjut dia, kehidupan ini harus diartikan secara seimbang, tidak melulu hanya untuk mencari pundi-pundi kekayaan. “Cobaan kan ada dua, saat susah dan senang. Nah, aku sekarang diberi cobaan dengan sesuatu yang enak. Aku harus ingat, aku juga harus mengutamakan orang-orang yang kusayangi,” terangnya.

Kini, Naomi juga sedang getol menularkan “filsafat kegagalan”. Jika orang berpikir be positive, dia malah mengusung tema be negative. Dia menulis buku berjudul Be Negative. “Saya ingin menjual kegagalan. Maksudnya, jangan takut gagal. Justru dari kegagalan itulah, kita harus belajar untuk menuju kesuksesan,” tuturnya.

Selain itu, dia banyak mengurusi pemberian beasiswa untuk lulusan-lulusan SMA di Indonesia. Mereka diberi beasiswa sekolah di Institute Otopreneur, Malaysia. “Aku rutin menjenguk anak-anak di Kuala Lumpur,” terangnya.
[ Senin, 11 Agustus 2008 ]

Artikel lain tentang Naomi 1
Artikel lain tentang naomi 2

“BILL” WILLIAM H. GATES ( Pendiri Microsoft)


“One thing I love about this [decade] is this is a period where the reality is driving the expectation.”

Bill Gates, 2004

International Consumer Electronics Show Keynote

William Henry Gates III lahir pada tahun 1955, anak kedua dari tiga bersaudara dalam keadaan sosialnya terkemuka di Seattle, Washington. Ayahnya seorang pengacara dengan perusahaan yang punya banyak koneksi di kota, dan ibunya seorang guru, yang aktif dalam kegiatan amal. Bill seorang anak yang cerdas, tetapi dia terlalu penuh semangat dan cenderung sering mendapatkan kesulitan di sekolah. Ketika dia berumur sebelas tahun, orang tuanya memutuskan untuk membuat perubahan dan mengirimnya ke Lakeside School, sebuah sekolah dasar yang bergengsi khusus bagi anak laki-laki.

Di Lakeside itulah pada tahun 1968 Gates untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan dunia komputer, dalam bentuk mesin teletype yang dihubungkan dengan telepon ke sebuah komputer pembagian waktu. Mesin ini, yang disebut ASR-33, keadaannya masih pasaran. Pada pokoknya ini sebuah mesin ketik yang kedalamnya siswa bisa memasukkan perintah yang dikirimkan kepada komputer; jawaban kembali diketikkan ke gulungan kertas pada teletype. Proses ini merepotkan, tetapi mengubah kehidupan Gates. Dia dengan cepat menguasai BASIC, bahasa pemograman komputer, dan bersama dengan para hacker yang belajar sendiri di Lakeside, dia melewatkan waktu ber-jam-jam menulis program, melakukan permainan, dan secara umum mempelajari banyak hal tentang komputer. “Dia adalah seorang ‘nerd’ (eksentrik),” sebagaimana salah seorang guru memberikan Gates julukan itu.

Sekitar tahun 1975 ketika Gates bersama Paul Allen sewaktu masih sekolah bersama-sama menyiapkan program software pertama untuk mikro komputer. Seperti cerita di Popular Electronics mengenai “era komputer di rumah-rumah” dan mereka berdua yakin software adalah masa depan. Inilah awal Microsoft. Komunikasi yang sederhana: Paul dan Gates membicarakan coke dan pizza. Tidak ada orang yang memperhatikan sungguh-sungguh pendapat kami. Semuanya berubah dalam dua dekade terakhir.

Gates masih tetap menyukai junk food, tetapi ia juga menghabiskan waktu dua jam sehari membaca dan menjawab electronic mail yang dikirim 15.000 karyawan Microsoft.

Selain itu banyak sekali email dari dari luar Microsoft.

Pertanyaan beragam, mulai dari bagaimana pengalaman orang berkeluarga (menyenangkan!), film apa yang saya sukai (Schindler’s List dan Shadowlands), sampai pertanyaan rumit yang harus membuka dulu buku untuk bisa menjawabnya (dan kebetulan saja juga menulis buku!).

Persoalannya, Gates menghabiskan waktu sepanjang hari menjawab email dan berceramah atau mengelola perusahaanya.

Gates mencoba menjalankan keduanya, tetapi ia tidak berkesempatan banyak berkomunikasi dengan kelompok yang beragam dan banyak sekali email yang tidak sempat dijawab.

Gates senang sekali menulis karena melalui tulisan ini membuatnya bisa berkomunikasi dengan kelompok yang lebih beragam tanpa harus teredit hingga terpotong-potong atau tersaring oleh persepsi seseorang.

Kenyataannya tidak semua pertanyaan diajukan melalui email.

Kadang orang mencegat Gates di Bandar udara atau mendesaknya untuk menjawab pertanyaan di pameran-pameran komputer atau anak Sekolah mengirim surat kepadanya.

Seorang mahasiswa baru-baru ini menanyakan satu pertanyaan yang penting untuk dia. Yang ingin diketahuinya bukanlah sesuatu yang sangat filosofis, seperti yang mungkin anda duga misalnya mengenai ekonomi pasar bebas.

Ia hanya ingin tahu, “apakah Gates sudah terlambat terjun ke industri software dan membangun sebuah perusahaan kemudian menjadi kaya?”.

Gates senang mendapat pertanyaan itu dan jawabannya selalu sama, “Inilah saatnya terjun ke bisnis software.”

Gates tidak mengatakan Anda bisa membangun Microsoft lainnya. Tetapi paling tidak Anda bisa mendapatkan omset penjualan dua juta dollar setahun dengan menjual 10.000 kopi produk senilai 200 dolar AS.

Cukup lumayan dan bisa terjadi kapan saja.

Karena Gates ingat bagaimana menariknya memulai sebuah perusahaan software, ia juga menikmati cerita keberhasilan orang lainnya.

Perusahaan software yang kecil selalu perlahan-lahan mulainya.

Perusahaan dimulai seseorang yang memiliki gagasan. Ia, pria atau wanita, mencari beberapa teman yang tahu bagaimana membuat program dan mereka kemudian menelorkan sebuah produk.

Banyak sekali karya kesenian yang mereka lakukan karena mereka peduli dengan pekerjaan itu.

Biasanya mereka membuat produk untuk satu pelanggan dan karena hasilnya memuaskan, mereka segera mendapat pembeli lainnya.

Jika Anda ingin memulai sebuah perusahaan, strategi utamanya temukan lingkungan sosial yang pas.

Lupakan keinginan menciptakan program pengolah kata untuk menulis, atau program spreadsheet untuk menganalisis keuangan, atau produk utama lainnya yang saingannya sudah banyak.

Sebaliknya, ciptakan produk yang bisa menolong penggunanya mengerjakan pekerjaan spesifik atau bisa memberikan informasi praktis dalam bidang seperti obat-obatan, asuransi, akunting, arsitektur atau bidang pemerintahan.

Software seperti itu mendatangkan peruntungan yang kecil-kecilan.

Jika Anda tidak puas dengan peruntungan yang kecil-kecilan itu, Anda harus sampai pada tahapan peralihan generasi. Kali ini mahal dan berisiko.

Setiap beberapa tahun satu generasi teknologi memberikan jalan baru. Ingat munculnya IBM PC di awal tahun 1980-an.

Microsoft bertaruh IBM PC akan menjadi penting. Kemudian Microsoft menciptakan sistem operasi MS-DOS untuk IBM PC.

Hasilnya Microsoft menjadi pelopor dalam software sistem operasi.

Tidak ada yang pernah mendengar mengenai Lotus sampai satu pemikiran cemerlang melaksanakan perubahan generasi menciptakan Lotus 1-2-3 spreadsheet pertama yang dirancang khusus untuk IBM PC.

Apple’s Macintosh dan Microsoft Windows adalah sang pemenang selanjutnya, ketika dunia menginginkan pengolahan grafik dan meninggalkan program lama yang hanya menampilkan teks.

Untuk mendapatkan kemenangan besar, anda pun harus mengkonsentrasikan diri pada perubahan generasi, sesuatu yang diabaikan perusahaan besar. Dan taruhannya mahal sekali.

Baru-baru ini sejumlah wiraswastawan berspekulasi software yang bisa digunakan pemakai komputer dengan cara menulis dengan tangan – bukan lagi menekan pada huruf – akan menjadi generasi baru software pengolah kata ada spreadsheet.

Mereka memulai menciptakan produk baru yang mereka pikir akan memenangkan persaingan. Mereka salah. Suatu spekulasi besar. Apa yang harus saya anjurkan pada seorang mahasiswa yang ingin menjadi wiraswastawan software?

Pelajari untaian sebuah perusahaan yang sudah ada.

Carilah lingkungan sosial anda sendiri.

Berhubunganlah dengan modal ventura.

Temukan orang yang cerdas.

Dan jangan lupakan coke dan pizza.

Percayalah, akan ada banyak pekerjaan di malam yang larut.