Lebih Alamiah tanpa Unas


Oleh: Suyono

BILA pada akhirnya ujian nasional (unas) benar-benar dihapus, menyusul putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasi unas yang diajukan pemerintah, dan terlebih-lebih bila nanti upaya peninjauan kembali (PK) yang diajukan pemerintah juga ditolak MA, kita tidak usah gelisah. Langit tidak runtuh gara-gara tidak ada unas.

Kita dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional tanpa adanya unas. Siswa dan guru bisa didorong lebih alamiah untuk meningkatkan kinerjanya tanpa tekanan karena adanya unas. Tanpa unas semestinya semangat belajar siswa dan kegairahan guru dalam mengajar akan lebih stabil, alamiah, dan penuh kesadaran serta tanggung jawab akan masa depan siswa yang penuh persaingan dan tantangan.

Serahkan kelulusan siswa kepada guru dan kepala sekolah. Biarlah mereka menentukan kelulusan siswanya masing-masing. Apabila guru dan kepala sekolah mengobral nilai, mereka akan rugi sendiri dan menyesatkan/menjerumuskan lulusannya. Nilai tinggi tidak ada gunanya kalau ternyata lulusannya tidak dapat bersekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau tidak mendapatkan pekerjaan di tengah masyarakat.

Dengan demikian, guru dan kepala sekolah akan berusaha berhati-hati dan proporsional dalam menentukan nilai akhir siswa tanpa ada tekanan dari mana pun. Iklim seperti ini justru malah baik bagi perkembangan sekolah ke depan. Kalau kemudian siswa dan guru bersungguh-sungguh dalam belajar dan mengajar, itu bukan disebabkan takut terhadap unas, tetapi lebih disebabkan kesadaran dan tanggung jawab masing-masing.

Peningkatan Mutu

Peningkatan mutu pendidikan tidak perlu melalui unas. Bahkan, unas tidak dapat meningkatkan mutu pendidikan, apalagi hanya menggunakan soal-soal pilihan ganda yang tidak bermutu. Peningkatan mutu pendidikan harus ditempuh melalui berbagai upaya yang dilakukan secara terus-menerus. Tingkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu guru, peningkatan mutu buku teks, peningkatan proses belajar-mengajar, peningkatan kualitas sarana dan prasarana, serta peningkatan komponen-komponen pendidikan lainnya.

Agar guru dan siswa bersemangat dalam belajar dan mengajar, lakukan penyadaran bahwa sekolah tidak hanya untuk mencari nilai, tetapi yang lebih utama untuk membekali diri memasuki kehidupan secara luas. Siswa dan guru harus disadarkan terus-menerus bahwa bila tidak melakukan proses belajar-mengajar dengan baik, mereka pasti akan terlindas oleh kemajuan zaman.

Sadarkan bahwa belajar secara benar melalui banyak membaca, berpikir kritis-kreatif, berdiskusi secara cerdas, belajar memahami dan mengolah informasi untuk belajar mengambil simpulan dan peluang-peluang, serta belajar memahami dan memecahkan masalah jauh lebih penting daripada menghafal dan mengingat fakta seperti yang terjadi selama ini.

Bagaimana bila pemerintah ingin mengetahui mutu pendidikan secara nasional? Gampang saja. Adakan ujian pemetaan mutu pendidikan (UPMP) yang dapat dilaksanakan setiap saat. Bisa setahun sekali, dua tahun sekali, tiga tahun sekali, atau lima tahun sekali. UPMP dapat dilaksanakan pada awal tahun, tengah tahun, akhir tahun, atau kapan saja. Dan, UPMP tidak ada kaitannya dengan kelulusan.

UPMP wajib diikuti semua siswa, dari kelas 1 SD sampai dengan kelas 3 SMA/SMK. Dari UPMP itu justru akan diperoleh data yang lebih akurat, otentik, dan menyeluruh, bukan hanya kelas 6 SD serta kelas 3 SMP dan SMA/SMK. Dengan demikian, hasil UPMP benar-benar dapat memetakan mutu hasil belajar siswa secara nasional dan dapat dipakai sebagai dasar memperbaiki mutu pendidikan secara menyeluruh.

Bila ternyata ada sekolah yang tidak mau berbenah, biarlah dihukum oleh masyarakat. Sekolah yang tidak mau berbenah pasti kualitas lulusannya rendah. Sekolah yang demikian secara alamiah pasti akan ditinggalkan masyarakat.

Standardisasi Pendidikan

Standardisasi pendidikan (standar isi, proses, sarana/prasarana, pembiayaan, dll) boleh saja diupayakan. Tetapi, jangan pernah berharap itu semua akan benar-benar tercapai secara seragam. Itu tidak mungkin. Yang terjadi adalah proses menuju dan tidak akan pernah berhasil mencapai standar yang ditetapkan.

Apabila ada yang berpendapat bahwa unas boleh diadakan apabila standar-standar itu sudah tercapai semua, itu juga tidak akan pernah dicapai. Mengapa? Kondisi sosial geografis sekolah yang beragam, kualitas input (siswa) yang beragam, kualitas guru yang beragam, minat dan semangat guru yang beragam, dan masih banyak lagi komponen-komponen pendidikan yang beragam. Semua itu secara alamiah menghambat pencapaian standardisasi pendidikan.

Keberagaman tersebut merupakan hukum alam yang tidak perlu dibantah. Biarkan semua berjalan apa adanya, sebagaimana alam semesta yang telah memberikan contoh kepada kita. Semua yang ada di muka bumi ini tidak ada yang seragam, semuanya beragam membentuk keindahan semesta. Jangan melawan kehendak alam.

Oleh karena itu, tentang kelulusan siswa serahkan sepenuhnya kepada guru dan kepala sekolah. Biarkanlah prestasi mereka dinilai dan dihakimi masyarakat secara alamiah. Sekolah yang lulusannya tidak dapat diterima di lembaga pendidikan yang lebih tinggi yang berkualitas, lulusannya banyak menganggur, atau tidak berprestasi di tengah masyarakat merupakan sekolah yang tidak bermutu dan pasti akan ditinggalkan masyarakat serta secara alamiah pula akan tutup dengan sendirinya.

Sebaliknya, sekolah yang lulusannya mudah diterima di lembaga pendidikan yang lebih tinggi dan bermutu serta mudah mencari dan menemukan pekerjaan pasti akan menjadi rebutan masyarakat walau tanpa adanya standardisasi pendidikan. Dengan demikian, unas yang menurut beberapa pihak sebagai bagian dari standardisasi pendidikan bisa saja dihapuskan. (*)

*). Suyono, dosen Fakultas Sastra , Universitas Negeri Malang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s