POHON CENGKIH NASIBMU KINI


SEJAK abad XV Maluku telah terkenal dengan rempah rempah, diantaranya pala dan cengkih, dengan cengkihlah bangsa asing menjajah bangsa Indonesia terutam bangsa Maluku. Maluku telah masyhur sebagai penghasil rempah-rempah. Bahkan,
Kepulauan Banda yang merupakan bagian Kabupaten Maluku Tengah, pernah tersohor sebagai produsen pala berkualitas dunia.
Cengkeh (Syzygium aromaticum, syn. Eugenia aromaticum), dalam bahasa Inggris disebut cloves, adalah tangkai bunga kering beraroma dari keluarga pohon Myrtaceae.
Cengkeh ditanam terutama di Indonesia di kepulauan Maluku, Sehingga tumbuhan ini dapat dikatakan flora identitas Provinsi Maluku

Cengkeh adalah tanaman asli Indonesia, banyak digunakan sebagai bumbu masakan pedas di negara-negara Eropa, dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia.

Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan tinggi 10-20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucuk-pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika bunga sudah mekar. Cengkeh akan dipanen jika sudah mencapai panjang 1,5-2 cm.

Harga cengkih pada masa jaya era tahun 90 –an harga cengkih bisa mencapai Rp. 20.000,-/kg itu merupakan harga fantastis bagi bangsa pribumi terutama masyarakat yang lagi panen cengkih, Didesa pelosok kampung yang terpencil anak-anak seumur 6 tahunan sudah kenal dengan namanya rupiah, ini karena dengan mudahnya mereka mendaptkan cengkih, untuk menjualnya cukup hanya diukur dengan bekas kaleng Susu, biasanya dihargai sekaleng (secupak) dengan harga Rp. 3000,-.

Oh alangkah mewahnya kehidupan bangsa Maluku pada saat itu, tapi semua itu berbalik dengan adanya keputusan Presiden Republik Indonesia bahwa Cengkih harus dijual kepada BPPC (Badan Penyangga Perdagangan Cengkeh), yang konon katanya milik Tommy Soeharto hehehee. Yang mana cengkih di beli dari petani dengan harga yang minim sekali Rp. 2000,-, disinilah mulai Merosotnya pendapatan masyarakat maluku terutama yang di pedesaan.
Pada akhirnya banyak penebangan-penabangan pohon cengkeh. Dengan demikian mulailah era pengangguran dan pergeseran nilai-nilai sosial di kalangan masyarakat Maluku. Sehingga masyarakat maluku sangat sensitive dalam menyikapi suatu masalah,

Masyarakat Maluku terkenal dengan jiwa kekeluargaan yang sangat tinggi sekali, saling membantu, tolong menolong dalam segala hal. Dalam istilahnya orang Maluku dikenal Istilah PELA yang artinya masih ada sislsilah keluargaan dari Kakek Nenek (Nenek Moyang) Baik itu Islam maupun Kristen.

Tapi kini Semua tinggal kenangan karena kebanyakan Masyarakat Maluku tidak banyak bergantung dengan hasil Cengkih, dikarenakan Cengkih hasilnya Musiman dan banyak Pohon cengkih yang sudah Tua yang seharusnya sudah harus diganti. Tapi Masyarakat Maluku Bukan Masyarakat yang Putus Asa masih banyak Hasil usha Hutan yang dapat dijadikan mata pencaharian, baik itu berupa Kopra (kelapa yang dikeringkan) ataupun Pala.(cain)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s