MASIH PERLUKAH BBM ?


Situasi bangsa Indonesia saat ini dalam penggunaan BBM masih sangat besar sekali, dimanapun dan kapanpun bangsa Indonesia akan selalu bergantung terhadap BBM, kecuali kalau masyarakat khususnya pemerintah sadar bahwa suatu saat energi ini akan habis, maka sampai dimana persiapan pemerintah mengantisipasi problem ini, apakah pemerintah telah mengupayakan suatu rencana agar kedepan kita tidak selalu bergantung dengan BBM.

Sunguh ironis sekali bahwa pemerintah sekarang ini walaupun sudah berusaha sekuat tenaga tapi masih belum menunjukan hasil yang maksimal, pemerintah dalam menjalankan suatu aturan tidak terlepas dari konflik kepentingan. Apalagi pemerintah dalam menjalankan suatu roda pemerintahan hanya beberapa tahun saja. yang menjadi pertanyaan disini apakah pemerintah selanjutnya mau meneruskan kebijakan kebijakan dari pemerintahan sebelumnya. Ambil contoh gimana kelanjutan program dari presiden pak Habibi dengan Industri Pesawat terbangnya, ribuan hektar sumber energi bio diesel dengan ditanamnya pohon jarak di dibeberapa tempat pada jaman presiden Megawati.

Bangsa Indonesia masih terlalu lalai dengan kebiasaan berpikir dan bertindak instan dan boleh dibilang ”penyakit” malas selalu menjangkiti budaya kultur kita. Bila kultur itu terus dipelihara, bangsa ini sulit bangkit dari cengkeraman krisis.

Kita liha saat ini, di beberapa negara maju, teknologi pengganti energi un-renewable (yang tidak dapat diperbarui) sudah bukan merupakan wacana. Di beberapa negara Eropa dan Amerika, teknologi itu paling banyak diaplikasikan. Presiden AS George W. Bush menandatangani RUU Energi (Energy Bill) yang khusus mengatur biofuel.

Gejala serupa muncul di kalangan perusahaan minyak dunia. Misalnya, North Dakota Biodiesel Inc yang menginvestasikan USD 50 juta untuk proyek biodiesel di Minot, North Dakota, AS. Biodiesel tersebut berbasis tanaman canola (sejenis gandum).

Itulah proyek terbesar di wilayah Amerika Utara dengan produksi 100 ribu ton BBM. Produsen minyak kelapa sawit di Malaysia, IOI Corp dan Kuok Oil & Grains, membangun dua penyulingan minyak kelapa sawit di Roterdam yang memproduksi lebih dari satu juta ton minyak kelapa sawit dalam setahun. Industri tersebut berencana memenuhi kebutuhan biodiesel di Eropa pada masa depan.

Sementara itu, perusahaan minyak raksasa Brazil, Petrobras, akan meningkatkan ekspor etanol sampai 9,4 miliar liter pada 2010 dari dua miliar liter pada 2005.

Di Indonesia, teknologi yang biasa disebut biodiesel tersebut sebenarnya bukanlah hal baru dalam pemanfaatannya sebagai salah satu sumber energi selain energi yang berasal dari minyak bumi. Sebab, secara tidak langsung, masyarakat sejak zaman dulu sering mengaplikasikan teknologi tersebut, namun dengan cara yang sangat konvensional. Misalnya, biji pohon jarak (Jatropha curcas L) telah lama digunakan sebagai penerang oleh masyarakat, terutama di wilayah yang banyak tanaman pohon jarak seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Belum lagi laporan beberapa hasil penelitian yang menunjukkan peluang besar pengembangan teknologi bahan bakar etanol dari singkong yang barang tentu semakin memberi peluang besar penggunaan bahan bakar substitusi BBM gas bumi.

Biodiesel sebagai bioenergi seharusnya mendapat tempat yang baik dan bisa menjadi prioritas dalam pengembangan teknologi di negara kita. Namun, lagi-lagi pembahasannya macet pada masalah kebijakan serta kurangnya kegigihan dalam mencari solusi-solusi alternatif.


Seandainya teknologi bioenergi itu bisa diterapkan secara baik di negara kita, jangankan harga minyak dunia naik menjadi USD 147 dolar per barel, naik menjadi berlipat pun mungkin tidak akan terjadi gejolak yang signifikan. Sebab, negara kita menyimpan kekayaan alam hayati yang melimpah. Apalagi, kita hidup pada iklim tropis yang memungkinkan melakukan crop system dengan pola tanam serta model yang lebih mudah dibandingkan kondisi alam yang memiliki empat musim dan subtropis.

Perbedaan paling mencolok adalah pada ketersediaan sinar matahari yang lebih banyak dibandingkan negara subtropis, meski sebenarnya ada kekurangan dan kelebihan tersendiri antara wilayah beriklim tropis dan subtropis.

BANYAK TAPI SEDIKIT

Secara aplikatif, bisa dikatakan bangsa kita yang tinggal di kawasan katulistiwa dengan melimpah sinar matahari kurang optimal dalam mengonversi energi matahari untuk menghasilkan bioenergi, terutama bioetanol.

Hal itulah yang membedakan dari negara Brazil yang sama-sama berada di kawasan garis katulistiwa. Brazil mampu dan optimal mengonversi energi matahari yang ada dalam gula. Kini, Brazil sudah menghasilkan bioetanol yang dijual sekitar USD 25 per barel.

Sekiranya bangsa ini akan bangkit menjadi bangsa yang kuat, cukupkah kita selalu berdiam diri? Cukupkah kita hanya mengkritik pemerintah? Cukupkah pemerintah yang kita asumsikan kurang prorakyat terus-menerus kita hujat tanpa ada inisiatif untuk melakukan perubahan?

Saya berharap bangsa ini segera keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Di antaranya dengan mengubah wacana dan ”sekadar” program penggunaan bioenergi sebagai alternatif penggunaan BBM gas bumi menjadi kenyataan dan bisa dirasakan seluruh rakyat. Semoga.

Dari berbagai sumber

Iklan

One thought on “MASIH PERLUKAH BBM ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s